PATI – Calon wakil gubernur Jawa Tengah Ida Fauziyah mendapat pesan berupa “Ojo Lali” (lupa). Pesan itu didapatkan saat dirinya hadir dalam “Ngaji Sareng Mbak Ida” bersama Perempuan NU Kabupaten Pati, Sabtu (2/6).

Dalam acara yang diikuti ratusan anggota Muslimat dan Fatayat itu, seorang peserta menanyakan kepada Ida, akan perhatiannya dengan taman pendidikan Al-Quran.

Peserta tersebut menyatakan, jika ada perhatian maka akan menambah semangat untuk mengajar. “Lalu kalau sudah benar jadi wakil gubernur ojo lali, ampun kesupen,” ujarnya.

Atas pertanyaan itu, Ida menyatakan akan menjaga komitmen yang selama ini sudah dia sampaikan, dimana salah satunya adalah memberi perhatian kepada TPQ. “Jadi doakan agar amanah,” jawab pendamping Sudirman Said dalam Pilgub Jateng 2018 ini.

Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU ini juga meminta doa restu, saat telah menjadi wakil gubernur terus berada pada jalan yang benar. “Kalau tidak amanah saya berani mundur,” tegasnya.

Mantan ketua umum Fatayat NU ini menegaskan, keberadaan Ponpes, TPQ, maupun madrasah diniyah harus mendapat perhatian, tanpa harus mengajukan proposal.

“APBD tidak ada? Soal APBD itu bisa dihitung, karena yang harus ada adalah komitmen. Jadi sampai saat ini yang belum ada adalah komitmen,” tegasnya.

Apalagi, lanjut Ida, Ponpes sudah turut serta mencerdaskan masyarakat. Termasuk membentuk pendidikan karakter.

Pengurus Muslimat Jateng Ida Masruroh menyatakan, sosok Ida Fauziyah merupakan kader terbaik.

“Sejak unyu-unyu sudah menjadi anggota DPR RI. Tentu kita ingin beliau membawa Jateng semakin berkah dan maslahah,” katanya.

Di Pati, Ida juga melakukan silaturahmi dengan Pengasuh Ponpes Ruadlatul Ulum Guyangan, Kecamatan Trangkil, KH M Najib Suyuthi. Selain sebagai lembaga pendidikan, Ponpes tersebut juga memiliki Rumah Sakit (RS).

“Jadi tidak hanya pendidikannya saja. Kita juga perhatikan bidang kesehatan. Kita juga punya unit usaha lain,” terang Najib.

Meski ada pengembangan berbagai bidang, kata Najib, nilai-nilai tradisional dari Ponpes tetap masih diperhatikan.

“Salah satunya, saat ngaji ya seperti pondok biasa, yakni masih sorogan,” tandasnya.

Leave A Comment

%d bloggers like this: