SEMARANG – Kemacetan masih menjadi salah satu persoalan utama transportasi di Jawa Tengah.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah Hadi Santoso saat menjadi narasumber dalam diskusi Tematik Reboan bertajuk “Mencari solusi kemelut permasalah pengelolaan transportasi publik di Jawa Tengah” di markas pemenangan Sudirman Said–Ida Fauziyah Jalan Pamularsih Raya 95 Kota Semarang, Rabu (25/4/2018) kemarin.

Hadi menyebut pengelolaan transportasi di Jawa Tengah masih menyimpan segudang permasalahan.

Dia mengatakan yang menjadi utama permasalahan transportasi di Jawa Tengah masih berada di sekitar kemacetan.

“Pada level nasional, kota Semarang masuk dalam sepuluh kota yang mengalami permasalahan kemacetan tertinggi,”katanya.

Selain itu, kata dia, masalah lain yang cukup krusial adalah konektivitas antar wilayah yang ditandai dengan lemahnya pelayanan antarmoda transportasi yang menghubungkan pelabuhan, bandara, terminal dan stasiun.

“Ditambah dengan belum optimalnya tingkat pelayanan angkutan umum sebagai penghubung pusat kegiatan strategis menjadi keruwetan berkepanjangan di Jawa Tengah, padahal, transportasi menjadi penunjang utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah,”kata politikus Partai Keadilan Sejahtera ini.

Disisi lain, kata Hadi sebenarnya simpul untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui transportasi kewilayahan di Jawa Tengah sebenarnya sudah di atur.

“Pengaturan-pengaturan itu jika dilihat berdasarkan peta wilayah Jawa Tengah terbagi menjadi delapan wilayah strategis. Dari delapan pembagian wilayah itu, wilayah selatan menempati posisi paling strategis untuk menumbuhkan ekonomi di Jateng,”ungkapnya.

Meski demikian, Hadi menyebut wilayah selatan justru banyak menyumbang angka kemiskinan di Jawa Tengah.

“Tingginya tingkat kemacetan di jalan raya yang disebabkan oleh kapasitas jalan yang tidak sebanding dengan volume kendaraan, banyaknya jalur perlintasan sebidang dengan jalur kereta api, tingginya penggunaan ruang parkir di bahu jalan dan belum terkoordinasinya manajemen antar persimpangan jalan menjadi pelengkap persoalan transportasi di Jawa Tengah,”paparnya.

Sementara, kata Hadi, anggaran untuk perbaikan infrastruktur di Jawa Tengah sebesar 2,3 triliun, namun besarnya anggaran itu, imbuhnya, baru mampu menyerap 16,8% dari jumlah total perbaikan sarana transportasi di Jawa Tengah.

” Akibatnya, kondisi jalan banyak yang tidak memiliki garis marga dan minim lampu penerang. Disisi lain, dalam melakukan pembangunan sarana transportasi pemerintah melakukan sendiri, dikelola sendiri, sehingga tidak ada rasa kepemilikan dan partisipasi masyarakat,”katanya lagi.

Atas kondisi tersebut, Hadi berharap jika Sudirman Said – Ida Fauziyah terpilih sebagai gubernur pelibatan dan partisipasi dari unsur masyarakat dalam melakukan pembangunan mutlak diperlukan.

*Polemik jembatan timbang*

Sementara, Fauzi Hasyim yang merupakan anggota komunitas Transportasi Semarang menyesalkan adanya penghapusan jembatan timbang.

Padahal, ungkapnya, pendapatan dari jembatan timbang tak kalah fantastis dari sektor lainnya apabila benar-benar dioptimalkan, yaitu bisa mencapai 112 miliar.

“Tidak adanya jembatan timbang membuat pemerintah kesulitan mengontrol besaran muatan setiap angkutan. Banyaknya kecelakaan Truk bermuatan berat disebabkan oleh angkutan yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri lantaran jumlah muatan yang melebihi kapasitas (over load). Keadaan ini juga berdampak pada kondisi jalan yang mudah rusak dan berlubang,”katanya.

Hajatan mingguan relawan Tim Perjuangan Merah Putih itu dihadiri oleh Hadi Santoso (Anggota DPRD Jawa Tengah), Fauzi Hasyim (Komunitas Transportasi Semarang) dan Alfa Marendra (Akademisi UNNES).

Leave A Comment

%d bloggers like this: