SOLO — Politik harus dikembalikan pada fungsi luhurnya sebagai alat perjuangan untuk melayani masyarakat, mengentaskan kemiskinan, melawan penindasan, membela orang kecil dan membebaskan mereka dari ketertinggalan.

Calon gubernur Jateng Sudirman Said menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Kerja dan Orientasi Dai yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Jateng Parmusi, Sabtu (31/3) di Solo, Jateng.

Pak Dirman menyampaikan, dahulu politisi adalah pemimpin yang memberi teladan. Politisi adalah pendidik, mereka menulis, bicara, menyuarakan idealisme perjuangan.

“Kita rindu pada suasana politik seperti itu,” kata Pak Dirman

Karena itu, lanjutnya, korupsi mau tidak mau harus menjadi prioritas. Demikian juga halnya dengan menegakkan pemerintahan bersih, membangun lapangan kerja, serta mengurangi kemiskinan.

Pak Dirman menilai, hari ini poitik sepi dari hawa perjuangan. Suasana memperjuangkan idealisme lamat-lamat. Malahan kalau ada yg bicara idealisme direspon dengan kata-kata: “ini politik bung!”.

“Sepertinya politik tidak boleh dibawa bawa ke idealisme. Ini amat memprihatinkan,” katanya.

Padahal, terang Pak Dirman, seluruh kemajuan bangsa didorong oleh idealisme. Idealisme di bidang teknologi, teknokrasi, HAM, penegakkan hukum, pemberantasan korupsi, dan idealisme di sektor-sektor penting lainnya.

Lebih jauh Pak Dirman menyontohkan,
Jepang dan Korea amat serius dengan pengembangan pendidikan dan teknologinya. China amat serius mendidik anak-anaknya, membangun prestasi olah raga, memperkuat ekonomi, juga memberantas korupsi.

“Pertanyaanya seberapa seriuskah kita mengurus negara? Mengurus daerah? Dimana idealisme kita?

Jika ingin maju, kata Pak Dirman, pemimpin harus serius mengurus daerah, mengurus negara. Utamakan kepentingan rakyat. Hindari kepentingan-kepentingan lain, baik kepentingan kelompok apalagi kepentingan pribadi.

Leave A Comment

%d bloggers like this: