JEPARA – Pengasuh Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur KH An’im Falasifah Mahrus memuji kemampuan calon wakil gubernur Jawa Tengah Ida Fauziyah.

Menurut Gus An’im, panggilan akrabnya, sosok Ida sudah makan asam garam dunia pesantren, organisasi, maupun politik. Mulai dari menjadi anggota DPR RI termuda, ketua fraksi, ketua umum Fatayat NU, hingga saat ini sebagai ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU.

Atas dasar itu ulama memilihnya untuk menjadi pendamping Sudirman Said dalam Pilgub Jateng 2018.

“Semoga hajatnya dikabulkan. Insya Allah pengalaman yang dimiliki menjadi modal, dan bisa mengemban amanah dengan bijaksana,” ujarnya saat menghadiri halaqoh Majelis Silaturrahim Ulama Rakyat (Masura) dan Laskar Santri Merah Putih di Tahunan, Kabupaten Jepara, Kamis (19/4).

Ida Fauziyah juga hadir dalam silaturahmi tersebut. Ratusan santri alumni Ponpes Lirboyo, Ponpes Al Fadlu Kaliwungu Kendal, dan API Tegalrejo, Magelang juga hadir dalam acara itu.

Gus An’im mengatakan, mantan ketua umum Fatayat tersebut sudah bersilaturahmi dan mohon doa restu ke pengasuh Ponpes Lirboyo KH Anwar Mansyur.

“Saya juga ajak ziarah ke makam pendiri Ponpes Lirboyo,” jelasnya.

Gus An’im juga berharap kepada hadirin untuk membantu pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Yusuf Chudlori.
“Gus Yusuf ini sedang punya gawe di Jawa Tengah, jadi sudah seharusnya kita membantu,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Gus An’im juga menyebut nama gurunya KH Dimyati Rois dari Kaliwungu, Kendal. Sosok Mbah Dim, kata Gus An’im merupakan salah satu guru terbaiknya.

“Dan ternyata pak Sudirman Said yang maju bersama mbak Ida ini adalah saudaranya Mbah Dim. Memang pak Sudirman ini jalurnya tidak mondok, tapi sekolah,” terangnya.

Pengasuh API Tegalrejo Magelang KH M Yusuf Chudlori yang juga hadir menegaskan, sosok Ida Fauziyah merupakan tawaran terbaik untuk Jawa Tengah.

“Untuk pak Sudirman, kita setuju karena beliau sosok yang bersih. Saat kita sowan ke Lirboyo, kiai Anwar juga mengingatkan, untuk menyapu lantai yang kotor, memang dibutuhkan sapu yang bersih,” imbuhnya.

Ketua Panitia Masura Jepara KH Muhammad Rusydi mengatakan, ulama itu mau tidak mau harus berpolitik, meski bukan harus politik praktis.

“Mari kita pilih pemimpin yang pro santri dan madrasah diniyah. Mari kita milih pemimpin yang tidak menerapkan full day school. Mari kita pilih pemimpin yang bisa entaskan kemiskinan, dan sejahterakan petani,” katanya.

Saat ini, kata dia, petani kesusahan untuk mendapatkan pupuk. Untuk memperolehnya saja juga harus memiliki kartu tani. “Padahal sudah saatnya musim tanam, malah orang tua pada nangis tidak bisa dapat pupuk,” katanya.

Saat ini, kata dia, diakui sudah memasuki tahun politik. Mulai adanya pilkada, hingga pileg, dan Pilpres pada 2019 mendatang.

“Kita kumpul untuk sama-sama menjaga kondusifitas dan keamanan negara, khususya Jepara,” tandasnya.

Leave A Comment

%d bloggers like this: