SEMARANG – Calon Gubernur nomor urut 2 Jawa Tengah Sudirman Said mengaku akan membayar utang kepada negara untuk mengentaskan kemiskinan jika terpilih menjadi Gubernur Jateng periode 2018-2023.

Hal itu disampaikan pria yang akrab disapa Pak Dirman tersebut saat menyampaiakan paparan dalam pelatihan pendirian mini market tahap 1 Panti Asuhan Indonesia oleh Himpunan Usaha Kreatif Panti Asuhan Indonesia (HUKPI), Selasa (27/2/2018) di Kota Semarang.

“Perjalanan hidup saya adalah sebagian besar beberes, alias menata, kadang-kadang menempuh risiko, dan saya katakan sebagai anak yang dientaskan dari kemiskinan akut, saya akan mencoba membayar utang kepada negara, dan masuk ke Jateng ikhtiar menjadi Gubernur adalah salah satu upaya membayar utang tersebut,”katanya.

Lebih lanjut, Pak Dirman menilai berdasarkan data statistik, angka kemiskinan di Jateng termasuk tertinggi, ada sekitar 4,20 juta orang, sementara pengangguranya mencapai 4,57 persen.

Pak Dirman menyebut bahwa panti asuhan adalah salah pelaksana konstitusi, dimana fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara.

Menteri ESDM RI periode 2014-2016 ini menceritakan bahwa perjalanan hidupnya tak lepas dari kemiskinan dan kekurangan.

“Saya mengalami yatim umur 9 tahun, karena bapak saya wafat saat usia 4 SD, kami enam bersaudara, dan ibu saya hanya lulusan kelas IV Sekolah Rakyat, dan dengan kondisi pendidikan dan keterbatasan kami, andalannya hanya tenaga, di desa saya di Slatri, Larangan hanya buruh panen, dan anak ibu saya yang paling kecil, kadang-kadang nangis, lapar, saya merasakan betul hidup tanpa harapan dan pegangan,”jelasnya.

Atas kerja keras dan doa orang tua, Pak Dirman kemudian menyebut bahwa negara turun tangan dan membantu menyukseskan masa depannya. Mulai dari potongan biaya sekolah sampai beasiswa yang diperoleh hingga pendidikan Strata 2 (S2).

“Perjalanan hidup membawa saya kepada peran-peran tugas yang cukup penting dan menantang, Dirut PINDAD, dosen, kemudan menjadi relawan ke aceh setelah tsunami, masuk Pertamina, seluruh pekerjaan itu saya diminta, bukan melamar, termasuk ketika menteri tugas beberes, hingga menjadi Menteri ESDM,”jelasnya.

Dengan perjalanan dan pengalaman tersebut, Pak Dirman memiliki tiga trik khusus dalam pengelolaan institusi, salah satunya panti asuhan yang ingin dimandirikan.

“Beberes intitusi itu, sebetulnya beberes tiga hal, beberes manusia, manusia maksudnya adalah bagaiamna kita manusia paling tepat di posisi paling tepat, memilih skillnya, ada fisik, ada otak, ada hati. Jadi kalau kita memiliki manusia terbaik, apakah ketrampilannya cukup sampai attitude, perilaku. Banyak orang-orang pinter, kita ketemu oramg terbaik,”paparnya lagi.

Yang kedua, kata Pak Dirman, adalah membangun struktur, dengan berbagai tingkat kerumitan dengan berbagai tingkat kerumitan organisasi, bagaiamana meumpuhkan sesuatu itu bisa ditata, tidak tergantng pada satu orang.

“Banyak lembaga yang tidak bisa berkembang, begitu figur sepuh, lembaga ikut turun, sehingga perlu perluasan, kepada kolektif leadership, inti struktur itu bagaimana ada saling cek antar pengelola, yang ketiga adalah budaya, termasuk nilai, integritas, cara kerja dan itu ditentuka pemimpinannya, dimanapun lembaga, sangat tergantung pada orang paling depan,”pungkasnya.

Sebagai informasi, pelatihan pendirian mini market ini diikuti seratusan peserta yang merupakan perwakilan dari Panti Asuhan seluruh Indonesia. Hadir juga dalam kesempatan tersebut mantan direktur Dompet Dhuafa Eri Sadewo yang berbagi teknik sosial enterpreneurship.

Leave A Comment

%d bloggers like this: