TEGAL – Produksi telur bebek dari sejumlah sentra produksi di Kota Tegal mengalami penurunan sampai 15 persen. Penurunan produksi telur bebek tersebut dikarenakan sulitnya para peternak bebek mencari bahan baku makanan, utamanya filet ikan yang menjadi makanan kegemaran bebek.

Prasetyo, salah satu anggota kelompok peternak bebek di Kecamatan Margadana, Kota Tegal mengadu seputar lesunya produksi telur bebek tersebut kepada Calon Gubernur nomor urut 2 Sudirman Said, Kamis (15/2/2018).

Dia mengatakan bahwa saat ini banyak peternakan bebek di Kota Tegal sedang tak optimal, untuk menghasilkan telur.

“Sejak kebijakan pelarangan cantrang diberlakukan, hal itu berpengaruh terhadap kami juga, sebab mencari filet ikan untuk makan bebek sulit, pasokan limbah ikan fillet ikan kepala duri, kalaupun dapat harganya mahal, “katanya.

Kondisi tersebut, kata Prasetyo, menjadi salah satu penyebab terganggunya produksi telur bebek. Padahal, telur bebek tergolong salah satu komoditas yang banyak dicari konsumen.

“Saat ini produksi telur bebek kami turun drastis, yang biasanya produksi normal mencapai 70 sampai 80 persen, sekarang tinggal 20 persen saja, kami berharap kedepan kebijakan cantrang tidak diberlakukan karena menghambat juga sumber pakan bebek, kembali normal, kembali murah,”paparnya.

Menanggapi keluhan warga tersebut, Sudirman Said berjanji akan mengedepankan dialog, utamanya terkait polemik pelarangan cantrang yang menyebabkan merembet kepada menurunnya produksi peternak bebek di Tegal.

Dia mengatakan tak hanya produksi telur bebek yang terancam akibat pelarangan cantrang, juga produksi tambang untuk alat tangkap ikan di Kabupaten Brebes terancam tidak mendapatkan penghasilan.

“Saya sangat menghargai kebijakan Presiden untuk melakukan peralihan alat tangkap, namun ternyata kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya mudah, sehingga nelayan harus terus diajak dialog terkait kebijakan cantrang,”ujarnya.

Dialog, kata pria yang akrab disapa Pak Dirman, adalah salah satu bentuk dari implementasi demokrasi di Jateng. “Demokrasi memang harus mendorong partisipasi warga,”kata Dirman.

Sebagai informasi, cantrang adalah penangkap ikan berbentuk kantong terbuat dari jaring dengan dua panel dan tidak dilengkapi alat pembuka mulut jaring. Jaring cantrang yang ditarik dengan kapal yang bergerak mampu menangkap ikan di dasar perairan.

Bagi nelayan, menggunakan cantrang memang menguntungkan karena dapat memperoleh hasil tangkapan ikan yang banyak. Selain itu, harga jaring cantrang juga terjangkau ketimbang pukat cincin yang harganya bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Polemik alat tangkap nelayan muncul menyusul terbitnya Peraturan Menteri Kelautan No. 2/2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets). Penggunaan cantrang termasuk yang dilarang sesuai dengan aturan ini yang mulai ditetapkan 8 Januari 2015.

Peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu sontak direspons protes keras dari para nelayan. Mereka menolak larangan penggunaan cantrang. Pemerintah pun akhirnya menunda larangan penggunaan cantrang.

Hingga saat ini, larangan penggunaan cantrang sudah tiga kali diperpanjang pemerintah. Perpanjangan pertama ditetapkan hingga Desember 2016, melalui Surat Edaran No. 72/MEN-KP/II/2016, tentang Pembatasan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Cantrang di WPPNRI.

Namun, pelarangan cantrang kembali diperlonggar hingga Juni 2017, melalui Surat Edaran Dirjen Perikanan Tangkap No. B.664/DJPT/PI.220/VI/2017. Setelah itu, kelonggaran ketiga berlangsung hingg akahir Desember 2017 melalui Surat Edaran Dirjen Perikanan Tangkap No. B.743/DJPT/PI.220/VII/2017 tentang Pendampingan Peralihan Alat Penangkap Ikan Pukat Tarik dan Pukat Hela di WPPNRI.

Sumber : Tim Perjuangan Merah Putih

Leave A Comment

%d bloggers like this: